Proyek Bandara Sasi sebagai Prospek Akselerasi Kemajuan di Perbatasan Indonesia-Timor Leste: Catatan Kritis Seorang Warga Diaspora TTU di Jakarta
Oleh: Dr. Frederikus Fios, S.Fil., M.Th*
Awal Januari lalu saya terbang dari Bandara International Soekarno-Hatta Jakarta menuju Bandara International El Tari Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Perjalanan lancar ditempuh selama 2 jam 50 menit walau kondisi cuaca sepanjang perjalanan berkabut dan sering terjadi tubulensi pesawat. Puji Tuhan, saya akhirnya dapat menginjakkan kaki lagi di Kupang, tanah Timor sejak kedatangan terakhir saya tahun 2018 silam untuk sebuah kepentingan riset akademis di Kabupaten Belu. Turun di Bandara El Tari, saya mulai agak terganggu karena masih harus melanjutkan perjalanan darat 5 jam lagi menuju kota kelahiranku Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Jikalau menghitung perjalanan saya dari Jakarta menuju rumah di Kota Kefamenanu, membutuhkan jarak tempuh hampir 8 jam dari Ibu Kota Jakarta. Bagi saya warga Diaspora TTU yang tinggal di Jakarta, perjalanan ini terasa jauh dan saya sempat berpikir kalau di Kefamenanu sudah ada moda layanan transportasi pesawat, maka ini tentu sangat menggembirakan. Kegembiraan ini saya yakin dirasakan juga oleh warga Diaspora TTU lain yang berkarya di luar Pulau Timor (entah di Indonesia atau luar negeri). Oleh karena itu ketika mengetahui informasi dari media online terkait rencana Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), saya terinspirasi menggores tulisan ini sebagai bentuk sumbangan pemikiran terkait upaya pemerintah melakukan terobosan penting ini. Semoga uraian ini dapat memperkaya ide dan diskursus pembangunan untuk kemajuan TTU.