Antara Papan Tulis dan Piring Nasi: Realita Nasib Guru Swasta dan Tambahan Anggaran Badan Gizi Nasional
Oleh Yakobus Gunardi Waret, Staf Pengajar di SMAS St. Gregorius Reo
Mencari keadilan ditengah keputusan pemerintah yang tak kunjung adil.
DITENGAH hiruk-pikuk pembangunan nasional Indonesia yang diupayakan oleh pemerintah, metafora “papan tulis dan piring nasi” menjadi simbol yang tajam dan kejam untuk menggambarkan dilema prioritas alokasi anggaran negara oleh pemerintah pusat. Pemerintah anggarkan dana yang sanggat besar untuk meningkatkan gizi dari anak-anak balita sampai dengan anak SMA. Tentu hal ini kita menilai bahwasanya pemerintah lebih memperhatikan kualitas badan dan berat badan dari anak-anak ketimbang meningkatkan kualitas intelektual dari anak-anak itu sendiri.
“Papan tulis” yang saya maksud mewakili guru-guru swasta, yang puluhan tahun dan bahkan ada yang sudah memasuki usia pensiun yang berjuang di garis depan untuk mencerdaskan anak-anak bangsa yang jauh dari sentuhan keadilan dari kebijakan pemerintah sampai saat ini. Program-program peningkatan kesejahteraan guru yang di buat oleh pemerintah samapai saat ini hanya melahirkan atau mengulangi sejarah lama dari pemerintah sebelumnya yaitu hanya diperuntukan guru-guru yang mengabdi di sekolah negeri. Aturan yang mengizinkan guru Aparatur Sipil Negara bisa ditempatkan di sekolah swasta hanya memberi ruang bagi guru-guru ASN yang sudah lulus tes sebelumnya bukan untuk pengankatan ASN untuk guru-guru yang mengabdi di sekolah swasta.