Ketika Ketenangan dan Keheningan Makin Punah (Sekenanya Saja di Masa Prapaskah)
Oleh Dionisius Ngeta, Komsos Paroki Nangahure
Mazmur 46:10 mengingatkan, “Tenanglah dan ketahuilah bahwa Akulah Allah.” Ketenangan dan keheningan membawa kita kepada kesadaran akan kehadiran Allah dan mendekatkan kita kepada-Nya. Ketenangan dan keheningan membantu kita membedakan kehendak Allah yang baik, berkenan dan sempurna. Ketenangan dan Keheningan menggerakan hati kita untuk tidak fokus pada diri sendiri, melainkan pada kehendak Allah, kasih-Nya dan pelayanan kepada sesama terutama yang menderita.
Ketenangan dan keheningan memampukan kita merespon penderitaan sesama dan pergumulan hidup bersama Tuhan, bukan sekedar memikirkan diri sendiri dan jalan keluar menurut logika manusia. Dalam keheningan kita dimampukan untuk membedakan suara Tuhan dari kebisingan dan kegaduhan dunia. Dalam Ketenangan dan Keheningan kita mampu memahami kehendak Allah di tengah kegaduhan bathin dan dunia sekitar.
Kita belajar untuk cukup dan berhenti sejenak dalam diam di tengah dunia yang super sibuk, gaduh dan bising. Cukup dan berhenti dalam diam bukan berarti menyerah. Tapi memberi ruang pada diri untuk sebuah refleksi. Berhenti sejenak dalam diam bukan berarti tanda lembah dan kalah. Tapi sebuah kepedulian pada diri sendiri, sesama dan lingkungan sekitarnya.