Ketika Ketenangan dan Keheningan Makin Punah (Sekenanya Saja di Masa Prapaskah)
Oleh Dionisius Ngeta, Komsos Paroki Nangahure
Jika ketenangan dan keheningan tiba, reaksi pertama adalah gelisah. Diam sepertinya kekosongan yang harus segera diisi. Padahal sesungguhnya kita justeru terlalu penuh-sesak terisi dengan kesibukan dan kegaduhan/kebisingan. Keheningan justeru nyaris punah terusik.
Ketenangan dan Keheningan sesungguhnya adalah kejujuran. Ia tidak menawarkan kenyamanan instan. Ia memang tidak ramah. Menantang kita untuk masuk pada kedalam jiwa yang justeru selama ini sudah terlalu penuh-sesak dengan kebisingan, kegaduhan dan kesibukan.
Ketenangan dan Keheningan tidak pernah memaksa kita untuk menjawab. Ia hanya menyediakan dan membutuhkan ruang untuk jujur. Bahkan ketika kejujuran itu menyakitkan. Ruang untuk jujur mengakui bahwa ada hal-hal yang belum selesai. Emosi yang belum beres, dendam politik yang terus membara, pertobatan yang masih jauh, iri hati yang tak pernah bertepi, marah berkepanjangan, pergaulan yang lupa diri, mabuk-mabukan hingga fatal untuk kesehatan dan lupa akan identitasnya, hati yang masih terluka, relasi yang masih terputus, rencana dan cita-cita yang belum tercapai, sukses yang masih tertunda dan sebagainya.