Ketika Ketenangan dan Keheningan Makin Punah (Sekenanya Saja di Masa Prapaskah)
Oleh Dionisius Ngeta, Komsos Paroki Nangahure
Ketenangan dan Keheningan mengajarkan kita bahwa tidak apa-apa untuk pelan dan mengenal diri tanpa topeng. Termasuk juga ajarkan bahwa segala sesuatu ada batas dan waktunya. Ada batas dan waktu emosi, ada batas dan waktunya dendam, ada batas dan waktunya untuk marah, ada batas pergaulan, ada batas kemampuan, ada batas dan waktu sibuk, gaduh dan bising, ada batas moral dan etika dan seterusnya.
Ketenangan dan Keheningan memungkinkan kita mengenal lebih dalam dan lebih luas rencana dan kehendak Allah. Keheningan adalah sarana spiritual mengenal kehendak Allah di tengah dunia yang penuh dengan kebisingan, kegaduhan dan kesikbukan. Keheningan memampukan kita memenangkan jiwa, mendengarkan suara hati dan merasakan kehadiran dan perkataan Allah.
Santa Theresia dari Kalkuta pernah berkata: “Dalam keheningan hati, Tuhan berbicara”. Hening bukan sekedar tidak ada suara, melainkan momentum di mana kita memberikan kesempatan lebih banyak kepada Tuhan untuk berbicara. Hening membiarkan Firman Allah meraja dalam kehidupan. Dan ini yang kurang di zaman ini.