Joko Widodo, Petarung Tanpa Gaduh
Oleh Dionisius Ngeta, S. Fil Tinggal di Bukit Nangahure Maumere
Apakah kita pernah membayangkan Jokowi mengambil Keputusan penting memindahkan dan membangun Ibu Kota Negara (IKN) di Kalimantan yang kini makin mantap? Apakah kita pernah pikirkan Jokowi membuka Trans Papua, Tol lintas Pulau Jawa tuntas dikerjakan, Tol Sumatra dan lain sebagainya. Hanya waktu yang bisa memberi jawaban dan membuktikannya. Dan hari ini jadi kenyataan. Masyarakat Indonesia menikmatinya.
Peluruh hinaan dan fitna habis-habisan terhadapnya. Seolah-olah dia musuh besar yang mesti diserang dan dihabisi. Tapi dia tetap diam tanpa gaduh. Diam bukan tanda Jokowi kalah dan menyerah. Diam dan tenang adalah karakter dan ciri khas petarung. Petarung sejati melawan tanpa gaduh, menyerang tanpa diprediksi dan diketehui. Makin diam dan tenang, makin terang baginya melihat celah dan cara memenangkan lawan. Sebaliknya makin sulit bagi lawan membaca apa sesungguhnya langkah strategi yang akan dilakukan.
Diam tanpa gaduh sesungguhnya adalah serangan itu sendiri – Sebuah strategi memenangkan bahkan mematikan lawan. “Kalau mau menang dalam pertengkaran, jangan bertengkar. Kalau mau menang dalam perkelahian, jangan berkelahi”, demikian pesan klasik. Frasa ini adalah sebuah paradoks yang menyisaratkan bahwa kemenangan sejati dalam konflik terutama politik adalah dengan mengurangi atau menghindari pertengkaran publik itu sendiri. Pertengkaran hanya memperkeruh dan memperburuk keadaan bahkan akan terjadi bias dan jauh dari fakta dan kebenaran serta sulit menemukan solusi.