Imperium Global: Berhala Baru Zaman Modern
Oleh Pascual Semaun, Mahasiswa Jurnalistik, Universitas Americana Paraguay, Amerika Latin
Perebutan Narasi Global
KTT New Delhi menunjukkan bahwa AI bukan sekadar teknologi, tetapi arena perebutan
narasi global. Usulan pembentukan badan internasional mirip International Atomic Energy
Agency (IAEA) untuk AI membingkai teknologi sebagai ambivalen: mampu membawa
kemajuan besar sekaligus risiko tinggi.
Pertarungan narasi ini bukan hanya soal regulasi teknis. Ia adalah pertarungan simbolik: siapa
yang menentukan definisi kemajuan, risiko, dan kepentingan sosial global? Siapa yang
memutuskan bagaimana teknologi digunakan dan siapa yang mendapat manfaatnya?
Dengan demikian, penguasaan teknologi modern juga menuntut penguasaan cerita, simbol,
dan nilai. Mereka yang mengontrol narasi dapat membentuk persepsi dunia, membimbing
opini publik, dan mengatur legitimasi global. Dalam konteks ini, penguasaan narasi sama
pentingnya dengan penguasaan kode atau infrastruktur teknis.
Imperium di Era Algoritma
Di era digital, imperium tidak lagi hanya berbentuk negara atau wilayah. Ia hadir sebagai
jaringan global yang menguasai data, algoritma, dan pengetahuan. Pengaruhnya begitu luas
sehingga hampir setiap individu bersentuhan dengan kekuasaannya, baik melalui media
sosial, platform digital, maupun konten hiburan.