Imperium Global: Berhala Baru Zaman Modern
Oleh Pascual Semaun, Mahasiswa Jurnalistik, Universitas Americana Paraguay, Amerika Latin
Imperium Pengetahuan
Ketimpangan kekuasaan global tidak hanya muncul dari ekonomi atau politik, tetapi juga
dari kontrol atas pengetahuan. OpenAI, Google, Microsoft, dan beberapa perusahaan raksasa
lainnya menguasai sebagian besar infrastruktur komputasi, data global, dan talenta khusus.
Konsentrasi ini menciptakan asimetri epistemik, di mana negara maju memiliki kapasitas
untuk menentukan standar teknologi dan norma global, sementara negara berkembang
cenderung menjadi pengguna pasif.
Ketergantungan pada teknologi dan data global menjadikan penguasaan pengetahuan sebagai
bentuk dominasi baru. AI bukan hanya alat produksi, tetapi juga instrumen untuk mengatur
keputusan sosial, ekonomi, dan politik. Dengan demikian, diskusi tentang tata kelola AI pada
dasarnya adalah perdebatan tentang distribusi kekuasaan global.
Asimetri pengetahuan ini menimbulkan risiko bahwa teknologi akan berkembang sesuai
kepentingan segelintir pihak, bukan untuk kemaslahatan umat manusia. Pertanyaannya
bukan lagi “bagaimana mengembangkan AI?” tetapi “siapa yang mengendalikan AI dan
untuk tujuan apa?” Pertanyaan ini menjadi inti refleksi etis dan politik di era digital, menuntut
kesadaran kolektif untuk menyeimbangkan inovasi dan keadilan sosial.