Guru Menyalakan Cahaya Pengharapan di Tengah Gelombang Zaman (Catatan Refleksi Hari Guru Nasional)

Oleh Gregorius Ambot, S.Pd, Gr (Guru di SMAS St. Gregorius Reo)

 

Angin Segar: Solusi dan Keberpihakan

Di tengah kegelapan tantangan tersebut, pidato Mendikdasmen, Bapak Abdul Mu’titahun ini pada momen peringatan Hari Guru Nasional akan membawa angin segar yang patut kita apresiasi. Pemerintah mulai menyentuh akar masalah: Kesejahteraan, Perlindungan, dan Kompetensi.

Langkah Menteri menandatangani nota kesepahaman dengan Kapolri terkait pendekatan Restorative Justice adalah terobosan penting. Ini adalah perisai hukum yang memberikan rasa aman. Dengan adanya jaminan penyelesaian damai bagi guru yang bermasalah saat mendidik, kita bisa kembali tampil percaya diri dan berwibawa, mendidik dengan ketegasan yang penuh kasih sayang tanpa rasa was-was.

Cahaya pengharapan juga dinyalakan melalui perbaikan kesejahteraan dan kompetensi. Program beasiswa S1 bagi guru, pelatihan Deep Learning, hingga rencana kenaikan insentif guru honorer pada tahun 2026 adalah sinyal positif bahwa negara hadir untuk memuliakan guru.

 

Merawat Cahaya, Menuntut Keadilan

Pada akhirnya, menjadi “Guru Cahaya Pengharapan” di tengah badai krisis moral adalah sebuah panggilan jiwa yang tak bisa ditawar. Kita tidak boleh membiarkan nyala api pendidikan ini padam hanya karena ketakutan atau ketidakadilan. Namun, cahaya ini butuh ruang yang aman untuk bersinar.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More