Guru Menyalakan Cahaya Pengharapan di Tengah Gelombang Zaman (Catatan Refleksi Hari Guru Nasional)
Oleh Gregorius Ambot, S.Pd, Gr (Guru di SMAS St. Gregorius Reo)
Ketiga, Kesejahteraan yang Belum Layak. Masih banyak guru di pelosok negeri, terutama honorer, yang digaji jauh di bawah UMR namun dituntut bekerja dengan standar profesionalitas tinggi. Masalah ekonomi memecah fokus guru; pagi mengajar, sore harus mencari kerja sampingan. Kita menuntut guru menjadi pelita yang terang benderang, namun sering lupa mengisi minyaknya.
Keempat, Disrupsi Teknologi (AI). Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) seperti ChatGPT, Gemini, hingga Google membuat guru bukan lagi satu-satunya sumber ilmu. Namun, peran guru tidak akan tergantikan. Teknologi hanya bisa mengajarkan ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), sementara guru membangun karakter dan mengajarkan kebijaksanaan (transfer of values).
Jeda untuk Membangun
Di tengah beban berat tersebut,mulai dari perangkat ajar, target kurikulum, hingga administrasi yang tak berujung,Hari Guru kali ini menjadi momen penting bagi segenap komponen bangsa untuk “Kembali ke Dalam Diri”.
Kita perlu berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah, tapi untuk membangun kesadaran kolektif. Pendidikan bukan hanya tugas guru di ruang kelas, melainkan tugas bersama. Perlu kolaborasi yang kuat antara sekolah, orang tua, masyarakat, pemerintah, dan penegak hukum. Dari heningnya refleksi inilah, kita menyusun kekuatan baru untuk melahirkan generasi penerus yang tangguh.