Guru Menyalakan Cahaya Pengharapan di Tengah Gelombang Zaman (Catatan Refleksi Hari Guru Nasional)

Oleh Gregorius Ambot, S.Pd, Gr (Guru di SMAS St. Gregorius Reo)

Harus kita akui, menjadi guru hari ini jauh lebih rumit dibandingkan satu atau dua dekade lalu. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Bapak Abdul Mu’ti, dalam pidatonya secara jujur memotret realitas ini. Di era digital dan global, kita dihadapkan pada tantangan kehidupan yang semakin hedonis dan materialistis, di mana kebahagiaan manusia seringkali hanya diukur sebatas kepemilikan materi.

Setidaknya ada empat  persoalan mendasar yang berusaha memadamkan cahaya pelita para guru saat ini:

Pertama, Krisis Moral dan Karakter. Guru hari ini tidak hanya bertarung melawan kebodohan, tetapi juga bertarung melawan algoritma media sosial yang mengikis sopan santun. Guru harus membangun karakter di tengah badai konten yang tidak mendidik.

Kedua, Bayang-Bayang Masalah Hukum. Ada masa di mana guru merasa gamang untuk mendidik. Batas antara ‘mendisiplinkan’ dan ‘kekerasan’ menjadi semakin kabur. Undang-Undang Perlindungan Anakyang sejatinya muliaterkadang ditarik terlalu jauh hingga membelenggu tangan guru. Niat hati ingin mendisiplinkan siswa, namun justru ancaman jeruji besi atau viralitas yang didapat. Akibatnya, cahaya itu meredup karena adanya rasa takut.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More