Aksi di Kedubes Vatikan. Ada Apa?
Oleh Yustinus Prastowo, Umat Keuskupan Bogor & Mantan Staf Khusus Menteri Keuangan Sri Mulyani, kini menjadi Staf Khusus Gubernur DKI Pramono Anung.
SEJAK kami melakukan Aksi Seribu Lilin di depan Kedubes Vatikan, Selasa (10/2), banyak pertanyaan dan pro kontra berdatangan. Dari yang sungguh-sungguh ingin tahu dan mendalami hingga yang sekadar mendukung atau mencela. Untuk semua respon, saya berterima kasih. Itu tanda Gereja masih hidup, berdenyut. Bukan fosil atau monumen tua tak berguna. Di titik ini kita patut bersyukur.
Selanjutnya ada gugatan, kenapa mesti mengumbar urusan internal Gereja ke publik, khususnya di jalanan. Gereja bukan entitas politik dan tidak menganut demokrasi, tetapi hierarki yang punya cara tersendiri dalam menyelesaikan persoalan.
Saya jawab lugas. Ruang publik kini tak dibatasi yang fisik. Justru belakangan ini media sosial menjadi ruang publik yang paling aktif dan berpengaruh. Warganet berjejaring, bertukar informasi, saling kritik, bahkan tak jarang saling serang. Kini advokasi pun kerap dilakukan via medsos dan efektif: mulai dari menggugat jalanan rusak, tak setuju dengan perilaku pejabat, mendukung penindakan pada perusak lingkungan, hingga menolak kenaikan tunjangan pejabat negara. Agustus 2025 adalah gerakan cukup besar yang dimulai dari medsos.