Ketika Ketenangan dan Keheningan Makin Punah (Sekenanya Saja di Masa Prapaskah)
Oleh Dionisius Ngeta, Komsos Paroki Nangahure
Di beberapa paroki, sering kali disampaikan himbauan pastoral kepada umat saat memasuki Masa Prapaskah, di antaranya adalah menjaga ketenangan dan keheningan. Tentang Ketenangan dan Keheningan, mengapa harus mendapatkan perhatian? Apakah makin punah dan betapa mahalnya mendapatkan ketenangan dan keheningan di zaman ini?
Zaman ini memang zaman sibuk, bahkan bising alias gaduh. Tidak saja di dunia nyata sekitar kita dan dunia maya, media sosial. Tapi dalam diri kita juga. Ketenangan dan keheningan terus terusik dari kehidupan. Sibuk, gaduh dan bising seolah-olah menjadi indikasi zaman ini selain seolah-olah penting, dibutuhkan dan berguna. Jadwal penuh, notifikasi ramai, chat tak pernah sepi, story WhatsAp selalu di-up-date-kan, bahkan saat sendiri pun jarang benar-benar diam dalam hening dan refleksi.
Ada musik selalu terhubung di telinga, video always on di layar ponsel, tiktok terus diskrol, dinding dan profil Fece Book terus berubah, chatingan yang tak pernah berujung, musik yang tak kenal waktu, pikiran yang terus dipaksa bekerja, amarah yang terus membara, freming dan labelisasi politik yang terus terjadi, emosi yang terus terusik dan masih banyak litania kesibukan dan kegaduhan di sekitar, media sosial dan dalam diri kita.