Joko Widodo, Petarung Tanpa Gaduh
Oleh Dionisius Ngeta, S. Fil Tinggal di Bukit Nangahure Maumere
Bertarung tanpa gaduh atau kekerasan sesungguhnya sebuah filosofi yang diterapkan dalam berbagai konteks. Kedisiplinan dan kesabaran menjadikan seorang petarung fokus pada tujuan jangka panjang dan menahan diri dari provokasi yang dapat memicu pertengkaran dan kekerasan. Integritas dan kekuatan moral ditunjukkannya lewat komitmen etis yang tinggi untuk memenangkan hati dan pikiran masyarakat umum lainnya dan bahkan lawannya. Ia lebih memilih membangun gerakan kolektif yang kuat melalui kerja sama dan dukungan bersama masyarakat.
Petarung tanpa gadung selalu memiliki prinsip bahwa hidup bukan tentang siapa paling sering dan giat menyerang dan gaduh di media, melainkan siapa paling bertahan pada jalan kebenaran kendatipun bertubi-tubi diserang. Hanya yang memiliki nyali bertahan pada kebenaran dan tak akan pernah takut pada ketidakadilan dan kejahatan yang dilakukan akan selalu menang dalam setiap perjuangan (Prinsip Satyagraha Mahatma Gandi).
Benar, jika Bambang Pacul mengatakan: “Joko Widodo (Jokowi) itu petarung berkelas yang memiliki nyali bertarung atau berjuang”. Tapi dia petarung tanpa ribut. Petarung tanpa gaduh dan tanpa kekerasan. Petarung itu memiliki nyali, kedisiplinan dan daya tahan walaupun terus diserang. Tiga hal ini kadang kala jarang bersatu dalam sosok seseorang atau seorang politisi. Jokowi memiliki semua ini.