Rendahnya Nilai Ujian TKA: Cerminan Lemahnya Literasi dan Numerasi di NTT
Oleh Katarina Aurelia Saridan, Siswi SMAS St. Gregorius Reo
Faktor lain yang tak kalah penting adalah kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Banyak keluarga di NTT yang masih menghadapi keterbatasan ekonomi sehingga pendidikan belum menjadi prioritas utama.
Selain itu, rendahnya nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) juga dapat dipengaruhi oleh metode belajar yang masih berfokus pada hafalan daripada pemahaman konsep. Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang untuk mengukur kemampuan berpikir logis, kritis dan pemecahan masalah, bukan sekedar mengingat informasi. Olah karena itu, jika proses pembelajaran lebih menekankan pada hafalan, siswa akan kesulitan menghadapi soal-soal yang membutuhkan penalaran mendalam.
Namun demikian, saya berpendapat bahwa hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) seharusnya tidak dijadikan alat untuk siswa atau daerah tertentu sebaliknya, hasil tersebut harus dipandang sebagai bahan evaluasi pemerintah, sekolah dan masyarakat untuk memperbaiki sistem pendidikan.
Di sisi lain, rendahnya nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) di NTT juga dapat menjadi momentum untuk melakukan refleksi nasional mengenai sistem pendidikan yang ada. Pendidikan tidak hanya bertujuan menghasilkan nilai akademik yang tinggi, tetapi juga membentuk karakter. Oleh karena itu, peningkatan kualitas pendidikan seharusnya tidak hanya berfokus pada nilai tes semata, tetapi juga pengembangan potensi siswa secara menyeluruh.