Pertemuan yang Tertunda

Oleh Karl Wiliam Rangga de Bagu, Siswa kelas XII SMAS St. Gregorius Reo

Awalnya aku canggung, Bahkan malu.

Aku tidak tahu harus memulai dari mana.

Tapi ketika suara mama terdengar di telpon, menyentuh telingaku, semua rasa itu perlahan hilang berganti dengan haru yang sulit dijelaskan. Kami berbicara panjang lebar, saling bertanya, dan menumpahkan segala rindu yang telah mengendap bertahun-tahun.

Hari itu, hatiku benar-benar bahagia.

Setidaknya, aku tahu mama masih ada dan Mama masih peduli. Mama mulai hadir secara nyata. Bahkan mama memintaku untuk izin ke papa, agar aku bisa mengunjungi rumah oma. Di sana, mama sudah menyiapkan sebuah handphone untukku, agar aku bisa lebih mudah berkomunikasi dan mendukung sekolahku serta memastikan komunikasi kami tak lagi putus.

Sejak saat itu, hubunganku dengan mama semakin dekat. Kami mulai sering berkomunikasi. Walau adikku masih belum bisa seperti aku, tapi lewat aku, mama tetap bisa mengetahui kabarnya.

Mama juga terus memperhatikan kebutuhanku. Jarak rumah ke sekolah cukup jauh, dan tanpa banyak bicara, mama memutuskan untuk membelikanku sepeda motor meskipun itu motor bekas. Bagiku, itu bukan sekadar kendaraan tapi bukti cinta yang selama ini tidak pernah hilang.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More