Pertemuan yang Tertunda
Oleh Karl Wiliam Rangga de Bagu, Siswa kelas XII SMAS St. Gregorius Reo
Setiap hari, ada satu kalimat yang selalu terlintas di pikiranku seperti kaset rusak yang tak mau berhenti: aku rindu mama. Rindu sunyi yang diam-diam kupendam, rindu yang kupendam rapat-rapat sejak aku masih kecil. Aku ditinggalkan mama sejak kelas 1 Sekolah Dasar (SD).
Sejak saat itu, rumah hampa kami hanya berisi aku, papa dan adik perempuanku. Kami tumbuh tanpa benar-benar tahu alasan mengapa mama dan papa berpisah. Tidak ada penjelasan, hanya ada kekosongan yang perlahan kami pelajari untuk terima.
Meski begitu, jauh di dalam hati, aku selalu merasa mama tidak benar-benar pergi.
Ada hal-hal kecil yang membuatku yakin. Kebutuhan kami selalu terpenuhi, kadang lewat saudara. Mereka bilang itu dari mereka, tapi entah kenapa, aku dan adikku sama-sama tahu, itu dari mama. Mama tetap memperhatikan kami, hanya dengan cara yang tidak bisa terlihat langsung.
Waktu terus berjalan. Aku tumbuh dengan berbagai rasa penasaran untuk mama, hingga akhirnya menginjak kelas 1 SMA.
Di saat itulah, dengan berbagai gejolak masa SMA takdir mulai merajut kembali benang yang sempat putus. Ternyata, tanpa aku sadari mama mulai mendekat lagi pelan-pelan. Mama mulai mengamatiku dariku dari kejauhan melalui layar HP.