Menangkal Krisis Moral Gen Z dengan Reorientasi Pendidikan Agama
Oleh Velsinal Yerin, Mahasiswi Stipas St. Sirilus Ruteng
Melalui strategi dialog partisipatif, isu-isu moral kontemporer yang akrab dengan keseharian Gen Z—seperti kesehatan mental, toleransi multikultural, hingga etika digital (digital citizenship)—harus dibedah bersama dari sudut pandang agama. Siswa diajak berpikir kritis melalui studi kasus nyata, bukan sekadar mendengarkan ceramah normatif. Ketika mereka dilibatkan aktif untuk berpendapat dan merefleksikan nilai-nilai ketuhanan secara mandiri, kesadaran moral akan tumbuh dari dalam hati nurani (afektif), bukan karena paksaan eksternal.Selanjutnya, pendidikan agama harus mampu menjembatani jurang antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial.
Menghafal ritual ibadah tentu penting, namun dampaknya harus termanifestasi dalam pembiasaan hidup sehari-hari (habituasi). Sekolah perlu menciptakan ekosistem yang mendukung penanaman moral ini, mulai dari kultur kejujuran saat ujian, budaya mengantre, hingga pembentukan empati sosial melalui aksi-aksi kemanusiaan nyata.Menangkal krisis moral Gen Z tidak akan membuahkan hasil jika kita terus menggunakan metode usang untuk mendidik generasi masa depan. Melalui reorientasi pendidikan agama yang membumi, adaptif teknologi, dan dialogis, kita tidak hanya sedang menyelamatkan satu generasi dari hantaman degradasi moral, tetapi juga sedang merawat masa depan bangsa agar tetap dipimpin oleh manusia-manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berintegritas secara spiritual. ***