Menangkal Krisis Moral Gen Z dengan Reorientasi Pendidikan Agama
Oleh Velsinal Yerin, Mahasiswi Stipas St. Sirilus Ruteng
Reorientasi pertama harus dimulai dengan mengubah pendekatan dogmatis-instruksional (top-down) menjadi strategi dialogis-partisipatif. Gen Z adalah generasi yang tumbuh bersama demokratisasi informasi. Mereka tidak bisa lagi didekati dengan metode doktrin satu arah yang kaku atau sekadar ancaman yang menakut-nakuti. Guru agama tidak boleh lagi memosisikan diri sebagai satu-satunya pemilik kebenaran di depan kelas. Sebaliknya, ruang kelas harus diubah menjadi mimbar dialog yang setara, aman, dan inklusif.
Di sinilah tantangan terbesar bagi para guru agama di era digital diuji. Tantangan guru hari ini bukan lagi mentransfer materi—karena algoritma kecerdasan buatan (AI) dan mesin pencari bisa menyediakannya dalam hitungan detik. Tantangan riilnya adalah bagaimana guru mampu bertransformasi menjadi fasilitator yang relevan bagi Gen Z yang memiliki rentang perhatian pendek (short attention span). Guru agama dituntut tidak gagap teknologi, mampu mengemas narasi keagamaan secara visual-digital, sekaligus memiliki kelenturan berpikir untuk mendengarkan keraguan spiritualitas siswanya tanpa langsung menghakimi. Jika guru masih mengajar dengan pola konvensional abad lalu, maka ruang kelas agama akan selamanya dianggap membosankan dan kehilangan otoritas moralnya di mata Gen Z.