Ketika Masa Kecil Digantikan Layar

Oleh Maria Grasela Patiati, Siswi SMAS St. Gregorius Reo

Tidak jarang gawai diberikan agar anak diam dan tidak mengganggu. Praktis, memang. Anak tenang, orang tua bisa bekerja. Tetapi lama-kelamaan, layar mengambil alih sebagian peran orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Interaksi berkurang. Percakapan makin jarang. Anak belajar banyak hal dari internet, tetapi sedikit dari dialog langsung dengan keluarga.Padahal masa kecil adalah masa membangun karakter, belajar empati, dan memahami lingkungan secara nyata.

 

Tantangan bagi Orang Tua, Sekolah, dan Remaja

Persoalan ini tidak bisa dibebankan hanya pada satu pihak.Orang tua perlu menetapkan batas waktu penggunaan handphone dan memantau konten yang diakses anak. Bukan sekadar melarang, tetapi menjelaskan alasan di balik aturan.

Sekolah juga perlu memperkuat literasi digital. Anak harus diajarkan bagaimana menggunakan internet secara aman, bagaimana melindungi data pribadi, dan bagaimana bersikap di media sosial.

Namun sebagai remaja, saya juga merasa kita tidak bisa lepas tangan. Anak-anak sering meniru kakaknya. Jika siswa SMA terus-menerus terlihat sibuk dengan handphone, sulit berharap adik-adik kita bersikap berbeda.Keteladanan adalah bentuk pendidikan paling nyata.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More