Ketika Masa Kecil Digantikan Layar
Oleh Maria Grasela Patiati, Siswi SMAS St. Gregorius Reo
Di Flores, kita tidak kekurangan ruang terbuka. Kita punya lapangan, kebun, pantai, dan bukit. Ironis jika semua itu kalah menarik dibandingkan video 30 detik yang terus berganti tanpa henti.
Anak yang terlalu lama duduk menatap layar berisiko mengalami gangguan mata, sakit kepala, postur tubuh yang buruk, bahkan pola tidur yang terganggu. Kurang tidur membuat anak sulit berkonsentrasi dan mudah emosi.Namun dampak yang lebih mengkhawatirkan justru tidak selalu terlihat secara fisik.
Konten digital yang serba cepat membuat otak terbiasa dengan rangsangan instan. Video pendek, game, notifikasi yang terus berbunyi, semuanya melatih otak untuk berpindah fokus dalam hitungan detik. Akibatnya, anak bisa kesulitan berkonsentrasi saat harus membaca buku atau mendengarkan guru di kelas.
Sebagai pelajar SMA, saya sendiri merasakan betapa mudahnya terdistraksi. Baru lima menit belajar, notifikasi masuk, fokus langsung buyar. Jika remaja saja masih berjuang mengatur diri, bagaimana dengan anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar?