Dari Perjumpaan Menuju Kesaksian: Dinamika Kemuridan Perempuan Samaria (Yohanes 4: 1-42)

Oleh Mario Oktavianus Magul, Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Kedua, tinggal (manein – stay with). Dalam dimensi kemuridan Injil Yohanes, konsep “tinggal” ini sesungguhnya tidak hanya sekadar merujuk pada keberadaan fisik, tetapi juga pada sebuah relasi intim yang terjalin dalam hidup bersama. Artinya, unsur “tinggal” ini tidak bisa dipersempit maknanya hanya sebatas pada perkara territorial saja. Ia perlu dimaknai secara lebih luas sebagai bagian dari ruang relasional. Dengan demikian, “tinggal” juga berarti hidup dalam relasi persekutuan yang intim dengan Sang Guru, Yesus Kristus.

Dalam kisah ini, dijelaskan bahwa setelah perempuan Samaria mengalami perjumpaan personal dengan Yesus, ia meminta-Nya untuktinggal bersama mereka. Yesus pun mengiyakan permintaan itu dan Ia tinggal di sana selama dua hari lamanya (ayat 40).Peristiwa ini tidak hanya berdampak pada perempuan Samaria semata, tetapi juga membawa perubahan dalam level komunitas orang-orang Samaria lainnya.

Pengalaman “tinggal bersama Yesus”, hemat penulis telah memungkinkan terjadinya proses pendalaman iman. Orang-orang Samaria yang pada awalnya percaya karena kesaksian perempuan itu, akhirnya percaya karena pengalaman mereka sendiri. “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia” (ayat 42). Dengan demikian, “pengalaman tinggal” menjadi ruang bertumbuhnya iman; dari sekadar kesaksian orang lain menuju pengalaman yang lebih personal dengan Kristus.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More