Dari Perjumpaan Menuju Kesaksian: Dinamika Kemuridan Perempuan Samaria (Yohanes 4: 1-42)
Oleh Mario Oktavianus Magul, Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
Oleh karena itu, dalam tulisan ini, penulis berusaha menganalisis dinamika kemuridan perempuan Samaria melalui empat tahap utama, yakni mengenal, tinggal (manein), mengerti, dan bersaksi. Keempat tahap ini hemat penulis hendak menggarisbawahi satu hal mendasar bahwa iman selalu bertumbuh dalam proses yang berkelanjutan.
Perjalanan Kemuridan: Dari Pengenalan Menuju Kesaksian
Dimensi kemuridan perempuan Samaria pada dasarnya berawal dari proses mengenal. Dalam narasi Injil Yohanes 4:1-42, proses pengenalan ini terjadi secara bertahap. Pada awalnya, perempuan Samaria hanya mengenal Yesus sebagai seorang pria Yahudi biasa. Hal itu tampak dalam ungkapannya: “Masakan Engkau, seorang Yahudi, meminta minum kepadaku, seorang Samaria?” (ayat 9). Penyebutan “orang Yahudi” dalam konteks ini, barangkali dapat menjadi bukti konkret bahwa perempuan Samaria belum sungguh-sungguh mengenal Yesus. Pengenalan yang ia miliki masih bersifat dangkal dan superfisial; masih dipengaruhi oleh batas-batas sosial dan kultural. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, proses pengenalan itu pun mengalami perkembangan. Melalui dialog yang intens, ia pun mulai menyapa Yesus sebagai “Tuan” (ayat 11, 15, 19),kemudian mengakui-Nya sebagai “Nabi” (ayat 19), dan akhirnya sampai pada pengenalan bahwa Yesus adalah “Mesias”(ayat 25).Perubahan cara penyebutan ini, hemat penulis dapat menjadi tanda bahwa proses pengenalannya akan Yesus mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Dengan demikian, mengenal Yesus bukanlah suatu tindakan yang instan, melainkan sebuah proses yang terus berkembang.