Budaya Ranking dan Krisis Makna Pendidikan di Kalangan Peserta Didik

Oleh Petrus Orbiola Kelana, Siswa SMAS St. Gregorius Reo

Sejatinya, pendidikan adalah sarana utama untuk memanusiakan manusia sebuah proses
panjang untuk mengasah daya kritis, membentuk karakter, serta memupuk rasa ingin tahu
yang tak terbatas. Namun, jika kita melihat realitas di lapangan saat ini, tujuan mulia
tersebut sering kali mengalami pergeseran yang cukup mengkhawatirkan. Orientasi
pendidikan kita, baik disadari maupun tidak, masih sangat kental dengan budaya “peringkat”
atau ranking. Memang, sistem peringkat sering dianggap sebagai instrumen positif untuk
memotivasi siswa agar belajar lebih giat melalui semangat kompetisi dan disiplin. Namun,
bagi saya, ketika angka di rapor atau posisi di kelas menjadi satu satunya ukuran
kesuksesan, pendidikan kita sebenarnya sedang mengalami krisis makna yang mendalam.

Budaya ranking ini telah menciptakan apa yang bisa disebut sebagai “fetisisme angka”.
Dalam mentalitas ini, seorang peserta didik baru dianggap berhasil jika ia mampu
menempati peringkat atas. Akibatnya, belajar tidak lagi dipahami sebagai perjalanan
intelektual untuk memahami ilmu atau mengembangkan potensi diri, melainkan sekedar
usaha pragmatis untuk mengalahkan teman sekelas. Fenomena ini secara tidak langsung
mengikis esensi belajar yang seharusnya didasarkan pada rasa ingin tahu, mengubahnya
menjadi ajang balap lari yang melelahkan demi mengejar nilai tertinggi di atas kertas.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More