Kunjungi Panti Santa Dymphna, Umat Paroki Santu Gabriel Waioti Meneteskan Air Mata
Laporan Dionisius Ngeta, Koordinator Umum Panti/Yayasan Santa Dymphna.
“Kita mesti merasa bersalah dan meneteskan air mata tobat jika kita adalah salah seorang yang membuat Yesus menderita dan tersalibkan. Wajah Tuhan hadir dalam diri mereka (ODGJ) yang sering terpinggirkan akibat stigmatisasi sebagai pembawa aib dan manusia tak berporduktif. Kita mesti meneteskan air mata penyesalan dan tobat mendalam, jika kita sering membuat sesama terutama Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) terdiskriminasi karena perlakukan yang tak adil”, demikian Dionisius Ngeta, Koordinator Umum Panti/Yayasan.
“Ingat…! Mereka sama seperti kita dalam segala hal, kecuali dalam hal dosa. Mereka sama-sama memiliki hak-hak sebagai manusia. Mereka sama-sama memiliki harkat dan martabat sebagai manusia yang layak dilayani dan dihormati apapun kondisi dan situasi fisik-mentalnya”, tegas pak Dion, alumni IFTK Ledalero itu.

Sebelum meninggalkan Aula Panti Santa Dympha dilakukan penyerahan sumbangan secara simbolik kepada Pimpinan Panti oleh Ketua Seksi Kebangunan Rohani bapak Antonius Kebang. Selanjutnya foto-foto bersama dengan ODGJ panti, menari sambil menyanyikan bersama lagu Injit-Injit Semut yang dimotori oleh Ridfan (difabel mental ) dan lagu “Dalam Yesus Kita Bersuadara” oleh Yulianti (difabel mental).***