Estetika Mitologi Komodo

Oleh: Charles Jama, Dosen Seni Universitas Nusa Cendana

“…Maka terjadi pada suatu hari dua anak dilahirkan. Satu yang hidup adalah ora (varanus), yang lain itu manusia. Buat manusia itu ibu (dari ayahnya) memeliharanya. Yang manusia itu haya dihiraukannya, ia dipiara baik-baik olehnya. Ora itu tidak dipiara. Maka ora itu pergi ke hutan. Adapun diberi nama oleh ibunya, ibu piaranya; ia namakan dia Si Sebelah (namanya)…”.

Penggalan kisah di atas sengaja saya kutip langsung dari buku yang ditulis oleh Verheijen berjudul “Pulau Komodo: tanah, rakyat, dan bahasanya” dengan maksud mengingatkan kembali cerita tentang asal muasal Komodo kepada kita.

Cerita di atas adalah sepenggal kisah hidup awal komodo dan manusia yang telah mengakar dalam masyarakat Pulau Komodo dan sekitarnya. Cerita ini bukan dibuat-buat, apalagi hanya untuk menarik minat dan perhatian wisatawan.

Cerita ini adalah sebuah mitologi masa lalu. Cerita untuk mengingatkan kembali pewarisnya untuk secara harmonis hidup berdampingan dengan komodo.

Sebagai seorang peneliti dan filolog, Verheijen tentu memiliki pandangan yang kritis terhadap cerita ini. Pertanyaannya, untuk apa ia memasukan cerita mitologi tentang komodo dalam bukunya?

BACA JUGA:
Rare Earth Elements (REE) & Rencana Tambang Gamping Di Kab. Matim
Berita Terkait
2 Komen
  1. Soni berkata

    Ulasan ini perlu diapresiasi dan dipublikasikan agar menjadi rujukan reflektif setiap pemangku kepentingan..

  2. Agus berkata

    Terimakasih masukannya. Analisis yg bagus dan akan dijadikan refferensi untukbersama membuka duskusi² agar semua obkek wisata perlu memperhatikan kearifan lokal. Salam.

Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More