
“…Maka terjadi pada suatu hari dua anak dilahirkan. Satu yang hidup adalah ora (varanus), yang lain itu manusia. Buat manusia itu ibu (dari ayahnya) memeliharanya. Yang manusia itu haya dihiraukannya, ia dipiara baik-baik olehnya. Ora itu tidak dipiara. Maka ora itu pergi ke hutan. Adapun diberi nama oleh ibunya, ibu piaranya; ia namakan dia Si Sebelah (namanya)…”.
Penggalan kisah di atas sengaja saya kutip langsung dari buku yang ditulis oleh Verheijen berjudul “Pulau Komodo: tanah, rakyat, dan bahasanya” dengan maksud mengingatkan kembali cerita tentang asal muasal Komodo kepada kita.
Cerita di atas adalah sepenggal kisah hidup awal komodo dan manusia yang telah mengakar dalam masyarakat Pulau Komodo dan sekitarnya. Cerita ini bukan dibuat-buat, apalagi hanya untuk menarik minat dan perhatian wisatawan.
Cerita ini adalah sebuah mitologi masa lalu. Cerita untuk mengingatkan kembali pewarisnya untuk secara harmonis hidup berdampingan dengan komodo.
Sebagai seorang peneliti dan filolog, Verheijen tentu memiliki pandangan yang kritis terhadap cerita ini. Pertanyaannya, untuk apa ia memasukan cerita mitologi tentang komodo dalam bukunya?
Ulasan ini perlu diapresiasi dan dipublikasikan agar menjadi rujukan reflektif setiap pemangku kepentingan..
Terimakasih masukannya. Analisis yg bagus dan akan dijadikan refferensi untukbersama membuka duskusi² agar semua obkek wisata perlu memperhatikan kearifan lokal. Salam.