Tidak tahukah dia tentang saudara kematian covid-19? Pasti tahu. Tapi untuk orang kecil berjiwa luas seperti Pater Servulus, hidup mati adalah bagaikan titian serambut yang dibelah tujuh dan dapat dilewati kapan saja tanpa keluh kesah yang merepotkan orang banyak.
Maka, saya sering bertanya kepada diriku sendiri dengan kesombongan menggunakan terminologi agama: “Bibang, hidupmu ini mencari dunia atau akhirat? Kalau kau jawab mencari dunia, saya tuding, yah, salahmu sendiri dunia kok dijadikan tujuan. Kalau jawabamu mencari akhirat, saya katakan “kalau kau mencari akhirat kenapa kau mengeluhkan dunia”. Kan sudah jelas sejak dahulu kala bahwa hidup ini hanya mampir minum. Namanya juga mampir, singgah sejenak, bukan bertempat tinggal tetap. Sudah jelas dunia hanya tempat persinggahan sementara di tengah perjalanan, kok disangka kampung halaman. Bodok de ghau, Bibang (= bego kamu, Bibang).
Sayangnya, dalam solilokuiku ini, Mori Keraeng (=Tuhan Allah) dengan suara sayup-sayup, menyatakan dan mungkin memang sengaja sekanario-NYA untuk saya: