Uskup Sipri Minta Umat Lanjutkan, Perjuangkan, dan Hidupkan Kembali Talenta Romo John Samur
Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan Tuhanmu.”
Ini bukan hanya kalimat penghargaan.
Ini adalah undangan ke dalam kehidupan Allah sendiri, undangan memasuki sukacita ilahi—sukacita yang hanya Tuhan miliki dan kini dibagikan kepada hamba yang dicintainya.
Pesan bagi kita yang hadir
Saudara-saudari terkasih, kepergian Romo John menyisakan banyak pesan mendalam bagi kita:
Pertama, hidup adalah talenta yang harus dikembalikan.
Apa pun yang kita punya—kesehatan, waktu, jabatan, kemampuan—semua hanyalah titipan. Kita diminta bukan untuk menghasilkan sebanyak-banyaknya, tetapi untuk setia. Tuhan tidak menuntut angka. Tuhan menuntut keberanian dan kesetiaan.
Kedua, penderitaan bukan akhir, tetapi pintu menuju perjamuan.
Yesaya mengingatkan kita: Allah tidak membiarkan air mata hilang begitu saja. Ia menghapusnya. Ia mendekat. Ia menyentuh kita.
Maut dikalahkan bukan dengan kekerasan, tetapi dengan pelukan Tuhan sendiri.
Ketiga, kunjungan kasih tidak pernah sia-sia.
Kunjungan pagi itu—kunjungan terakhir dari para imam—menjadi bukti bahwa Gereja tidak pernah membiarkan imamnya berjalan sendirian menuju pintu kematian. Rm John pergi dalam pelukan Gereja, ditemani doa dan cinta kita semua.