Trias Politica Plus Pers Pilar Keempat Demokrasi, Antara Harapan dan Kenyataan
Oleh Walburgus Abulat (Jurnalis Pojokbebas.com, dan Kolumnis di Pelbagai Media)
Dalam bukunya, Kovach menggambarkan bagaimana suasana ruang redaksi yang penuh dengan keadaan nurani para wartawan yang dilematis. Saat berita hendak diturunkan atau deadline, seseorang di puncak organisasi media harus bisa mengambil keputusan, menerbitkan atau tidak menerbitkan sebuah laporan, membiarkan atau mencabut sebuah kutipan yang panas agar media bersangkutan bisa menepati deadline.
Kesepuluh, Warga kian terlibat dalam proses produksi konten jurnalistik melalui interaksi di media digital.Di era digital, siapa saja bisa memproduksi konten informasi seperti memproduksi berita. Warga bukan lagi sekadar konsumen pasif dari media, tetapi mereka juga menciptakan media sendiri. Munculnya blog, jurnalisme online, jurnalisme warga (citizen journalism), jurnalisme komunitas (community journalism) dan media alternatif.
Jauh Dari Harapan
Meskipun secara teori, dan secara konsep demokratis dipahami bahwa pers sebagai pilar keempat demokrasi, tetapi faktanya masih banyak perlakukan dari oknum-oknum baik yudikatif, legislatif, dan yudikatif yang terindikasi mengangkangi konsep di atas dengan aneka kekerasan baik kekerasan verbal/kata, kekerasan perilaku yang merendahkan profesi jurnalis, maupun kekerasan fisik yang dilakukan oknum pejabat atau pun orang-orang suruhan oknum pejabat.