Pengkhianat Kemerdekaan: Rekrutmen Koruptor

Oleh Gebrile Mikael Mareska Udu, Mahasiswa Universitas Sanata Dharma

Kasus Ebenezer tak pelak menunjukkan bahaya tren politik dinasti dan kronisme para pemegang kekuasaan. Pengangkatannya hanya didasari sebagai usaha balas jasa atas kontribusinya pra pilpres tanpa sedikitpun memperhitungkan kompetensinya.  Usaha untuk bekerja sama memberantas korupsi malah membuka peluang untuk menciptakan babak baru korupsi koncois. Di sini korupsi menjadi fakta kontraproduktif dari cita-cita kemerdekaan Indonesia untuk menjadi negara yang bersatu dan berdaulat demi kesejahteraan rakyat.

Patut diakui bahwa sungguh menyakitkan ketika demokrasi berdiri di atas sistem politik kroni. Rakyat sebagai pemegang mandat demokrasi tidak ada apa-apanya di hadapan geliat para konco penguasa. Kepentingan publik tidak lagi menjadi sasaran kinerja penguasa. Yang terpenting konco bisa naik jabatan sementara yang lain tinggal dikondisikan saja.

Cita-cita Ebenezer sebagaimana telah dikutip sebelumnya hanya mau menarik simpatik rakyat dan penguasa bahwa ia hadir tidak hanya sebagai calon pemimpin tetapi juga pahlawan. Ketika kekuasaan digenggam, ia justru terlelap dalam genangan kemewahan hasil karya kejahatan. Maka tidak berlebihan jika ia dijuluki sebagai “pahlawan” korupsi, bukan karena ia gigih menentang kejahatan politik, melainkan karena “berani” mencederai ulang tahun kemerdekaan RI dengan korupsi yang tak tanggung-tanggung. Sejumlah uang, puluhan mobil, dan sepeda motor ducati menjadi saksi bisu penangkapannya. Beginilah jadinya demokrasi ketika diisi oleh rekrutmen tanpa proses seleksi yang ketat.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More