Pemilih dan Strategi Komunikasi Politik Politisi
Oleh Dionisius Ngeta, S.Fil, Warga RT/RW 018/005 Kel. Wuring Kec. Alok Barat, Kab. Sikka
BALIHO, spanduk dan stiker para politisi seperti bakal calon DPR, bupati, Presiden (Capres atau Cawapres) mulai menghiasi ruang publik. Terpajang di berbagai tikungan jalan, perempatan, perduaan, pagar, tembok bahkan pada tiang-tiang listrik dan pepohonan. Demikian juga di berbagai platform media sosial. Beragam pesan dan mohon doa restu tertera dengan jelas, sangat ornamentik agar terlihat keren dan artistik. Visi dan misi bahkan janji-janji manis tersaji walau kadang kala secara akal sehat susah dicerna. Pembagian sembako berkedok bantuan sosial pun diam-diam mengalir dalam kesenyapan. Strategi klasik sejak Plato dan Aristoteles ini terus diwariskan.
Sah-sah saja, apa pun strategi, bentuk dan cara komunikasi politik politisi ke ruang publik. Tapi, publik, pemilih adalah pribadi dengan kecerdasan dan keadaban yang tidak mudah dikangkangi dan diakali. Pemaknaan terhadap pesan spanduk dan baliho atau apa pun bentuk dan cara komunikasi politik para politisi tidak hanya menyeret kita masuk dalam arus percaturan politik sekaligus mendukung dan atau memilih. Apalagi membutakan mata hati nurani dan mematikan daya nalar dan akal sehat. Kita bukan pemilih murahan, yang mudah terbawa arus propaganda politik, tergoda iming-iming murahan dan terpancing janji-janji manis, apalagi terbuai oleh gemerincing uang.