MGMP sebagai Episentrum, Menavigasi Transformasi Literasi di Era Digital
Oleh Sebastianus Utu, Guru di SMAS St. Gregorius Reo
Transformasi literasi ini menuntut guru untuk menguasai multiliterasi (visual, digital, data, dan media). Melalui platform seperti Rumah Belajar atau Platform Merdeka Mengajar, serta aplikasi pendukung seperti Cerdas Digital (CERDIG), MGMP dapat mengintegrasikan teknologi. Integrasi ini bukan sebagai aksesori pelengkap, melainkan sebagai alat kognitif fundamental dalam proses belajar mengajar.
Namun, implementasi di lapangan seringkali menghadapi tantangan. Transformasi literasi di tingkat MGMP seringkali bersifat “top-down” dan cenderung formalitas. Guru sering dipaksa mengadopsi teknologi tanpa pemahaman filosofis mendalam tentang bagaimana teknologi tersebut sebenarnya mengubah struktur berpikir dan cara belajar siswa. MGMP perlu lebih berani mendobrak sekat-sekat mata pelajaran untuk menciptakan literasi lintas disiplin yang lebih holistik.
Selain itu, terdapat paradoks antara akses dan kualitas. Meskipun akses terhadap literasi digital diproyeksikan meningkat, kesenjangan kualitas literasi tetap lebar, terutama di daerah terpencil yang menghadapi tantangan infrastruktur ganda. Tanpa dukungan kebijakan yang fokus pada peningkatan kapasitas guru secara substansial, transformasi literasi hanya akan menjadi narasi indah di atas kertas. Akibatnya, di lapangan terjadi “obesitas informasi” tanpa disertai daya kritis yang memadai.