Mbetung dan Tinding, Bunyi Penjaga Budaya Manggarai

Oleh Karolus Budiman Jama, Dosen Seni FKIP Undana

Dalam konteks musik etnik Manggarai, tinding dipahami sebagai media ekspresi musikal yang bersumber dari kayu tertentu yang relatif ringan, tetapi mampu menghasilkan bunyi nyaring menyerupai “gong kayu” ketika dimainkan. Secara onomatope, istilah tinding merujuk pada bunyi dentingan yang muncul dari perjumpaan dua benda keras saat dibenturkan, sehingga nama alat musik ini merefleksikan langsung karakter soniknya.

Dalam klasifikasi organologi musik oleh Hornbostel–Sachs misalnya, idiophone menempati kelompok utama alat musik yang berbasis material padat, baik yang dimainkan dengan cara dipukul maupun tidak. Bahan utama idiophone sangat beragam, meliputi kayu, bambu, logam, batu, hingga bahan sintetis.

Idiophone sering dianggap sebagai salah satu bentuk alat musik paling tua dalam sejarah peradaban manusia. Lebih jauh, dalam konteks kebudayaan, idiophone tidak semata berfungsi sebagai alat musik, melainkan juga sebagai penanda social, ritual dan simbolik. Banyak masyarakat tradisional memanfaatkan idiophone dalam upacara adat, ritus keagamaan, sarana komunikasi antarkelompok, serta pengiring aktivitas kerja sehari-hari. Dari perspektif etnomusikologis, idiophone mencerminkan relasi manusia dengan lingkungan materialnya—bagaimana kayu, bambu, atau logam diolah menjadi sumber bunyi yang sarat makna kultural dan historis.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More