Mbetung dan Tinding, Bunyi Penjaga Budaya Manggarai

Oleh Karolus Budiman Jama, Dosen Seni FKIP Undana

Di sisi lain, mbetung dan tinding juga memiliki karakteristik idiophone, yakni alat musik yang menghasilkan bunyi dari getaran tubuh instrumen itu sendiri tanpa menggunakan senar, membran, atau kolom udara sebagai sumber utama suara. Dalam praktiknya, mbetung dan tinding dimainkan dengan cara dipukul pada bagian tertentu yang berfungsi sebagai “dawai”, sehingga tubuh bambu atau kayu instrumen turut beresonansi menghasilkan warna bunyi yang khas. Variasi teknik pukulan pada bagian-bagian tersebut memungkinkan munculnya beragam efek bunyi.

Jika ditinjau lebih lanjut, karakteristik tersebut juga membuka kemungkinan pengaitan mbetung dan tinding dengan konsep xylophone, yakni alat musik pukul (idiophone) yang menghasilkan bunyi dari getaran bilah-bilah kayu ketika dipukul menggunakan alat pemukul khusus (mallet). Meskipun mbetung dan tinding tidak sepenuhnya identik dengan xylophone dalam bentuk konvensionalnya, prinsip bunyi berbasis getaran material kayu atau bambu menunjukkan kedekatan konseptual.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More