Mbetung dan Tinding, Bunyi Penjaga Budaya Manggarai

Oleh Karolus Budiman Jama, Dosen Seni FKIP Undana

Mbetung dan tinding, dalam Kamus Bahasa Manggarai yang disusun oleh Verheijen, didefinisikan sebagai “gitar dari bambu”. Namun, definisi tersebut tidak disertai dengan ilustrasi visual yang dapat memastikan kemiripan bentuk maupun prinsip bunyinya dengan gitar. Kemungkinan besar, penyematan istilah “gitar” dalam kamus tersebut dimaksudkan sebagai pendekatan analogis untuk memudahkan pembaca memahami keberadaan alat musik ini berdasarkan rujukan instrumen yang lebih dikenal secara umum.

Dalam praktik kesenian masyarakat Manggarai, mbetung dan tinding justru menunjukkan karakter yang berbeda dari gitar, baik dari segi bentuk, cara bermain, maupun prinsip organologinya. Bahkan, mbetung dan tinding merupakan dua alat musik yang berbeda satu sama lain, meskipun kerap disandingkan dalam wacana lokal maupun akademik.

Dalam diskusi penggolongan alat musik, mbetung dan tinding dapat ditempatkan dalam wilayah yang problematik karena memiliki ciri-ciri yang memungkinkan keduanya dimasukkan ke dalam lebih dari satu kategori. Di satu sisi, alat musik ini dapat digolongkan sebagai chordophone, sebagaimana definisi Verheijen yang menyebutkan adanya “ gitar bambu” dan pada mbetung yang memiliki dawai dan tinding juga sama dalam definisi kamus itu. Chordophone adalah kelompok alat musik yang sumber bunyinya berasal dari getaran senar, dengan perbedaan nada ditentukan oleh panjang, ketegangan, dan ketebalan senar tersebut.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More