Mbetung dan Tinding, Bunyi Penjaga Budaya Manggarai
Oleh Karolus Budiman Jama, Dosen Seni FKIP Undana
Dalam perspektif etnomusikologis, mbetung dan tinding lahir dari ritme kehidupan agraris masyarakat Manggarai. Kedua alat musik ini tidak diciptakan untuk ruang pertunjukan formal, melainkan tumbuh dari kebutuhan sehari-hari para petani. Mbetung dan tinding dimainkan saat jeda kerja di kebun atau sawah, serta menjadi teman setia ketika menggembalakan ternak di padang. Bunyi yang dihasilkan bukan semata-mata untuk diperdengarkan kepada orang lain, melainkan sebagai dialog personal antara manusia, alam, dan waktu luang yang dimilikinya.
Fungsi utama mbetung dan tinding bersifat rekreatif, yakni sebagai sarana hiburan untuk melepas lelah setelah kerja fisik yang panjang. Dalam konteks ini, musik tidak diposisikan sebagai aktivitas terpisah dari kerja, melainkan sebagai bagian integral dari keseharian. Bunyi bambu dan kayu yang sederhana mencerminkan prinsip ekonomi budaya masyarakat Manggarai: memanfaatkan apa yang tersedia di alam untuk menciptakan ruang kesenangan, ketenangan, dan keseimbangan batin.