Mbetung dan Tinding, Bunyi Penjaga Budaya Manggarai

Oleh Karolus Budiman Jama, Dosen Seni FKIP Undana

MASA kecil yang dihabiskan di halaman kampung (natas), kebun, padang, sawah, bahkan hutan, merupakan pengalaman paling menyenangkan bagi generasi 1970-an, 1980-an, 1990-an, hingga awal 2000-an. Generasi ini tumbuh jauh dari dominasi teknologi digital; telepon genggam belum menjadi kebutuhan primer sebagaimana dialami anak-anak hari ini. Seni tradisi dan olahraga tradisional menjadi dua aktivitas yang lekat dalam keseharian mereka, hadir sebagai ruang bermain sekaligus ruang pembelajaran kultural yang alamiah.

Mbetung dan tinding adalah dua instrumen musik yang akrab di telinga etnik Manggarai. Ingatan musikal saya merekam dengan jelas bagaimana kedua alat musik ini kerap saya mainkan saat menemani ayah melatih musik—baik orkes suling bambu maupun ketika beliau menggarap sebuah tarian. Aktivitas tersebut dilakukan untuk berbagai kepentingan, mulai dari kebutuhan sekolah—mengingat beliau seorang penilik kebudayaan—hingga pelayanan gereja sebagai umat di Reok, Manggarai, pada masa itu.

 

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More