Makna Filosofis dan Politis Natal: Allah-Yang-Menjadi-Manusia

Oleh Dr. Fitzerald Kennedy Sitorus, Dosen Filsafat Universitas Pelita Harapan Karawaci, Tangerang. Lulusan Goethe-Universitat Frankfurt, Jerman.

Kedua, karena Allah telah menjadi manusia, maka manusia memiliki martabat Ilahi. Manusia bukan semata-mata makhluk organis duniawi hasil evolusi. Dalam dirinya juga terkandung kualitas Ilahi. Ada yang Ilahi dalam diri manusia karena Allah telah menjadi manusia. Dalam pandangan Hegel, kualitas ilahi dalam diri manusia itu berlaku untuk seluruh umat manusia. Manusia berpartisipasi dalam yang Ilahi.

Ketiga, kualitas keilahian ini membuat manusia memiliki martabat yang agung. Manusia memiliki nilai dan martabat absolut yang tidak dapat diganggu gugat. Ia bukan sekadar sebuah makhluk, sebagaimana makhluk-mahluk lainnya di dunia ini. Karena itu manusia, sebagai makhluk yang memiliki kualitas keilahian, tidak boleh dilecehkan, disiksa, diperkosa, dijajah, atau diperlakukan dengan tidak adil. Segala bentuk tindakan negatif kepada manusia adalah bentuk pelecehan terhadap yang Ilahi.

Keempat, berdasarkan ketiga pengertian di atas, maka: Natal itu politis. Dengan merayakan peristiwa „Allah menjadi manusia“ maka Natal harusnya menjadi momen untuk mengingatkan kembali kualitas keilahian manusia ini. Natal harus menjadi momen pemuliaan manusia, perjuangan untuk memanusiakan manusia. Natal menjadi momen pembebasan manusia dari segala bentuk penindasan. Karena itu pesta Natal seharusnya pesta politis: pesta pembebasan manusia.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More