Makna Filosofis dan Politis Natal: Allah-Yang-Menjadi-Manusia
Oleh Dr. Fitzerald Kennedy Sitorus, Dosen Filsafat Universitas Pelita Harapan Karawaci, Tangerang. Lulusan Goethe-Universitat Frankfurt, Jerman.
Karena dunia dan segala isinya adalah Allah dalam bentuk yang lain, hasil manifestasi diri Allah, yang membuat keallahan Allah menjadi konkret, maka Hegel mengatakan bahwa „tanpa dunia, Tuhan bukanlah Tuhan“ (Ohne Welt ist Gott nicht Gott). Saya menulis mengenai hal ini dalam sebuah Festschrift untuk Romo Prof. J. Sudarminta (Dengan Nalar dan Nurani, Penerbit Buku Kompas, 2016).
Peristiwa dan makna „Allah menjadi manusia“ (Natal) itu memiliki implikasi sangat besar. Itu bisa menjadi titik tolak bagi sebuah interpretasi politis atas Natal.
Pertama, Natal mengatasi keterasingan antara Allah dan manusia. Manusia tidak lagi teralienasi dari Allah, sebagaimana dalam konsepsi Judaisme. Yesus adalah sintesa antara Allah dan manusia. Dengan menjadi manusia dalam diri Yesus, maka tidak ada lagi oposisi antara yang terbatas (manusia) dan yang tidak terbatas (Allah). Dalam diri Yesus, yang terbatas dan yang tidak-terbatas tersintesakan. Yesus adalah manusia sekaligus Allah. Ia memiliki kualitas-kualitas kemanusiaan dalam diri-Nya, dan juga kualitas-kualitas Keilahian. Ia imanen sekaligus transenden.