Kristus: Raja yang Tersalib Dan Relevansinya Bagi Dunia Masa Kin
Oleh: Arnoldus Nggorong
Komparasi yang tidak seimbang
Ada kalangan yang berpendapat bahwa perbandingan ini sangat tidak proporsional. Mereka berargumen, Yesus adalah Allah, meskipun Dia lahir sebagai seorang manusia. Ke-Allah-an-Nya memungkinkan Dia memiliki kemampuan untuk melakukan hal yang tidak mungkin, bertahan dalam kesulitan yang paling ekstrim. Ke-manusiaan-an-Nya tidak mengurangi bahkan menghilangkan ke-Allahan-Nya. Justru ke-Allah-an Yesus “mengatasi” ke-manusiaan-Nya. Dengan lain perkataan, Yesus “mengalahkan” ke-Allahan-Nya adalah suatu usaha yang paling radikal dari seorang Allah”. Seturut perspektif manusiawi, itu adalah kebodohan.
Saya tidak hendak menjawab atau menuntaskan persoalan di atas. Lagipula ini bukan kompetensi saya. Di sini saya sebatas mengemukakan suatu refleksi atas perbandingan tersebut dengan mengajukan pertanyaan retoris berikut.
Pertama. Kalau Yesus, yang adalah Allah, sudi turun ke dunia (bdk. Luk. 1:31) meninggalkan “kemapanan ke-Allah-an-Nya” dan tidak menganggapnya sebagai milik yang mesti dipertahankan, lalu turun ke dunia, menjadi serupa dengan manusia (bdk. Flp. 2:6-9), merasakan kelemahan-kelemahan manusia, dan mengalami pencobaan (Ibr. 4:15), adakah dasar yang kokoh yang patut dibanggakan dari kemewahan duniawi, popularitas diri, kelimpahan harta, padahal itu cuma sementara, dan pada akhirnya binasa, tidak dapat mempertahankan hidup? (bdk. Mat. 6:26)