Kristus: Raja yang Tersalib Dan Relevansinya Bagi Dunia Masa Kin
Oleh: Arnoldus Nggorong
Dialah Raja yang sesungguhnya sebagaimana diafirmasi oleh Yesus sendiri ketika Pilatus bertanya: “Engkaukah raja orang Yahudi?” dan Yesus menjawab: “Engkau sendiri mengatakannya.” (Mat. 27:11). Para prajurit yang menganiaya Yesus juga menyebut Yesus adalah Raja. (Yoh. 19:3). Di atas kayu salib Yesus ditulis: “Yesus, Raja orang Yahudi (Mat. 27:37; Mrk. 15:26; Luk. 23:38; Yoh. 19:19). Pengakuan yang sama datang dari seorang penjahat yang turut disalibkan bersama Yesus di Kalvari. Di tengah penderitaan yang mengerikan dan dalam nada penuh harap dia berkata, “Yesus, ingatlah aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” (Luk. 23:42). Santa Faustina, rasul kerahiman menyebut Yesus adalah Raja kerahiman. Paulus, sang rasul, dalam karya pastoralnya, justru mewartakan Kristus, Raja yang tersalib. (bdk. 1 Kor. 1:23; Kol. 1:13). Pemerintahan-Nya kekal, abadi.
Sedangkan raja duniawi memerintah dengan kekuasaan, tangan besi. Padahal pemerintahannya hanya sementara. Kekuasaan pada raja duniawi digunakannya untuk menguasai. Di sekitarnya ada pengawal yang setia dan militan melindungi dan merelakan nyawanya bagi sang raja.