Kristus: Raja yang Tersalib Dan Relevansinya Bagi Dunia Masa Kin
Oleh: Arnoldus Nggorong
Raja dalam Kitab Suci
Dalam Kitab Suci terdapat beberapa kisah tentang raja yang jatuh dalam tindakan sesuka hati dan sewenang-wenang karena besarnya kekuasaan yang ada padanya. Sifat kekuasaan raja yang absolut secara potesial memberi peluang lebih besar untuk bertindak sewenang-wenang, walaupun awalnya sang raja itu baik. Lagipula watak kekuasaan secara intrinsik berpotensi diselewengkan seperti sudah diperingatkan sejarawan Ingris, Lord Acton.
Padahal status raja dalam kitab suci adalah representasi Allah. Dengan lain kata, sang raja memerintah atas nama Allah. Sebab raja dipilih oleh Allah dengan perantaraan nabi-Nya. Dalam keyakinan sederhana, raja pilihan Allah tidak mungkin bertindak sesuka hati. Namun karena kekuasaan itu berada dalam tangan manusia, selalu ada kemungkinan untuk disalahgunakan. Di sini hanya disebutkan beberapa sebagai contoh untuk menunjukkan tindakan raja yang akhirnya tergoda dan jatuh dalam penggunaan kekuasaan secara sewenang-wenang.
Perjanjian Lama
Dalam Perjanjian Lama terdapat beberapa raja yang menyalahgunakan kekuasaannya. Pertama. Raja Saul (1 Sam. 9-15). Dia adalah raja Israel pertama. Saul menjadi raja atas kemauan orang Israel yang mendapat restu dari Allah lewat perantaraan nabi Samuel (lih. 1 Sam. 8:6-9; 9:15-16). Kesalahan yang dilakukan Saul adalah ketidaktaatannya terhadap perintah Allah lantaran takut akan kehilangan takhta dan kecemburuannya terhadap Daud yang berdampak pada upayanya untuk membunuh Daud karena takut kehilangan pengaruh dan kewibawaan.