Kristus: Raja yang Tersalib Dan Relevansinya Bagi Dunia Masa Kin

Oleh: Arnoldus Nggorong

Raja, dalam benak orang-orang sederhana (rakyat jelata) terlebih pada tempoe doeloe sebelum mengenal konstitusi, adalah sosok yang dihormati, dihargai, dikagumi, disanjung, dipuja layaknya dewa, tapi sekaligus juga disegani, ditakuti. Perihal ambiguitas sosok raja ini cukup beralasan karena ia memiliki kekuasaan mutlak, tidak terbatas. Yang dapat membatasi kekuasaannya hanyalah sang raja itu sendiri. Sebutan yang memperkokoh kekuasaan absolut sang raja adalah maharaja, mahadhiraja, prabu, panembahan, malik.

Itulah sebabnya segala keputusan dan tindakan entah baik atau jahat, buruk bergantung sepenuhnya kepada sang raja. Walaupun sang raja memiliki penasihat, namun yang menentukan dan memutuskan, tetaplah sang raja itu sendiri. Sekalipun pada permulaan pemerintahannya sang raja itu baik, namun sifat absolut kekuasaan itu membuatnya terlena sehingga akhirnya dia terjerembab dalam kesewenang-wenangan.

Deskripsi ringkas di atas dengan jelas memperlihatkan sosok raja duniawi yang penuh kuasa, kemegahan, kesemarakan, kemewahan, kemuliaan, disegani, dihormati dan dipuji. Gambaran ini tampak dengan cukup sempurna dalam kisah pencobaan Yesus di padang gurun pada saat iblis memperlihatkan seluruh kerajaan duniawi dengan segala kuasa dan kemuliaannya (bdk. Luk. 4:5-6; Mat. 4:89). Untuk kepentingan tulisan ini, saya mengambil raja dalam Kitab Suci sebagai contoh.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More