Kristus, Juruselamat Lahir di Tengah Keluarga Sinodal yang Bermisi Pengharapan dan Perdamaian (Luk. 2:11)

Surat Gembala Natal 2025 Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM, Uskup Keuskupan Bogor

 

๐—œ๐—œ. ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ท๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ ๐—ž๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—ฎ๐—ฟ๐—ด๐—ฎ ๐—ฆ๐—ถ๐—ป๐—ผ๐—ฑ๐—ฎ๐—น ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—•๐—ฒ๐—ฟ๐—บ๐—ถ๐˜€๐—ถ

1. BELAJAR DARI TAHUN YUBILEUM: GEREJA YANG BERJALAN BERSAMA

Selama tahun 2025 ini, kita telah merayakan identitas kita sebagai “Peziarah Pengharapan”. Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium mengingatkan kita bahwa “Sukacita Injil memenuhi hati dan hidup semua orang yang menjumpai Yesus” (EG, 1). Perjumpaan itu paling nyata terjadi dalam kebersamaan kita sebagai umat Allah. Semangat sinodalitas – mendengarkan dan berjalan bersama – telah menjadi nafas baru yang menjadikan komunitas kita lebih inklusif.

2. KELUARGA SEBAGAI FONDASI SINODALITAS

Keluarga adalah unit terkecil dari Gereja Sinodal. Dalam Familiaris Consortio, Santo Paus Yohanes Paulus II menegaskan bahwa “Keluarga, yang didasarkan pada cinta kasih serta dihidupkan olehnya merupakan persekutuan pribadi-pribadi: suami dan istri orang tua dan anak-anak, sanak-saudara.” (FC, 18) Di sinilah sinodalitas dimulai: ketika ayah, ibu, dan anak saling mendengarkan, saling mengampuni, dan bersama-sama mencari kehendak Allah.

Berita Terkait
Tinggalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More