
Jatuh Bangun Garuda Muda Mengejar Si Kulit Bundar Berakhir Manis Madu
Oleh Julius Salang
“JATUH BANGUN aku mengejarmu …”
Lantunan lagu dangdut lawas “jatuh bangun aku mengejarmu..”, sangat pas untuk menggambarkan perjuangan skuad Timnas Indonesia U-17 atau Garuda Muda saat berduel dengan Timnas Korea Selatan.
Duel perdana ajang Piala Asia 2025 itu berlangsung di Prince Abdullah Al Faisal Stadium, Jeddah, Arab Saudi, Jumat (4/4/2025). Asa meraih trofi Piala Asia bahkan Piala Dunia U-17 ibarat mengejar pujaan hati.
Untuk mendapatkannya perlu perjuangan ekstra keras, apa lagi kalau si dia diincar banyak kompetitor. Maka segala jurus dikeluarkan. Eros (seni bermain) dan agon (keperkasaan) jadi keniscayaan.
Seni menggocek, potog tidur alias sliding tackle, dribble, menjebak lawan, lari, keringat, jatuh, bangun, keseleo, memar, patah tulang, senyum, teriak, sindir, pujian dll menjadi bagian utuh tak terpisahkan dari perjuangan menggapai tujuan.
Perjuangan Timnas Indonesia U-17 seperti itu. Pun timnas Korea Selatan seperti. Kedua tim sejak awal berduel adu eros dan agon. Dua-duanya, eros dan agon menyatukan masa lalu dan masa depan.
Mereka jatuh bangun mengejar impian atau harapan yang akan terwujud. Dua-duanya menghadirkan mssa lalu. Timnas Korea hadir sebagai tim finalis masa lalu yang pernah digdaya melibas tim lain.
Sedangkan Timnas Indonesia U-17 juga datang sebagai tim yang mengukir kemenangan laga perdana di event yang sama tahun silam. Maka terjadilah pertempuran sengit di setiap lini.
Sejak menit awal Pasukan Garuda dikurung skuad berjuluk Taeguk Warriors. Nyaris sepanjang 2x 45 menit Taeguk membuat Garuda sulit mengepakkan sayap serangan.
Namun pelatih Nova Arianto paham cara membalas kelakuan kurang ajar anak-anak dari Negeri Gingseng itu. Jauh sebelum duel, Nova memilih sosok tepat untuk menjadi benteng terkahir.
Sebagai kiper, dipilihnya Dafa Al Gasemi. Pemain kelahiran 12 Februari 2008 itu memiliki tinggi badan 1,8 meter dengan bobot 77 kg. Dafa bermain gemilang, menggagalkan tembakan jarak jauh para penggawa Taeguk Warriors.
Dafa aman dari tembakan jarak dekat karena ada lima benteng kokoh di depannya. Formasi 5-3-2 yang diterapkan Nova manjur.
Muhammad Al Gazani, Fabio Azkairawan, Daniel Alfrido, Mathew Baker, dan I Putu Apriawan solid memagari pergerakan striker tunggal Korea yang bertumpu pada Jung Heejung.
Lini tengah Garuda Evandra Florasta, Muhamad Zahaby Gholy dan Nazriel Alfaro Syahdan juga kerap cekatan turun ke lini belakang.
Sementara dua striker Fadly Alberto Hengga dan Mochamad Mierza Fijatullah selalu siaga penuh kalau ada momen serangan balik.
Strategi Nova nampaknya unggul terhadap skema 4-5-1 yang diterapkan pelatih Korea. Pelatih Back Ki-tae menempatkan Park Dohun di bawah mistar gawang.
Bek dipercayakan kepada Kim Minichan, So Yoonwoo, Lim Yechan, Koo Hyeonbin. Sementara di lini tengah ada Park Byeongchan, Kim Yegeon, Kim Jihyuk, Oh Haram, Jon Geonyoung. Jung Heejung striker tunggal.
Pasukan Back Ki-tae sukses mendominasi laga. Mereka menguasai bola 68 persen dengan tembakan mengarah ke gawang 21 tembakkan, namun tidak menghasilkan satu gol pun.
Terlelap dalam penguasaan bola dan peluang emas yang selalu nyaris menjebol gawang Dafa, anak-anak negeri gingseng tidak tahu kalau lini tengah Garuda siap mengepak sayap serangan.
Para waktu injury time petaka itu datang menghampiri klub finalis musim lalu. Serangan balik mendadak, bola masuk ke daerah berbahaya. Pemain Garuda mencungkil bola ke sisi kiri kiper, namun bek yang panik tak sempat merapatkan tangan menyatu ke badannya.
Bola itu mengenai tangan kirinya dan langsung ditiup wasit sembari memberi kode handball. Tampak wajah pelatih Korea kecut dan panik. Nova Arianto gembira.
Evandra Florasta mengambil si bundar meletakkannya di titik putih. Ia mundur tidak terlalu jauh, fokus matanya pada bola sambil menunggu tiupan peluit.
Saat wasit meniup peluit, eros dan agon Evandra muncul. Ia berjingkrak sebelum melepaskan sepakan dengan sasaran pojok kiri. Park Dohun jago membaca gerak kaki Evandra. Ia suskes menepis bola itu.
Tapi sial, bola bergelinding ke arah Evandra. Pemain kelahiran Malang, 17 Juni 2008 itu langsung menyergap bola dengan sepakan keras. Gol yang dicetak di menit 90+2 sontak meluapkan sukacita Evandra cum suibus (cs) plus pelatih dan jajaran manjemen.
Sementara pasukan Back Ki-tae tertunduk letih lesu. Kekalahan di laga pembuka sangat terpukul. Pelatih menilainya sebagai sial.
Dalam sesi konfrensi pers di akhir laga, Back Ki-tae mengatakan skuad yang dibesutnya sedang tidak beruntung. Padahal, kata dia, sepanjang permainan pasukannya menguasai pertandingan.
Kemenangan 1-0 sangat bernilai bagi Putu Panji cs. Dengan skor 1-0 mereka mempertahankan rekor positif Timnas U-17 Indonesia di laga pembuka Piala Asia U-17.
Kemenangan ini mengingatkan kembali rekor edisi 2018. Saat itu Timnas U-17 Indonesia juga menang atas tim raksasa Asia, Iran dengan skor 2-0 di laga pembuka.
Nova Arianto mengaku puas dengan pencapaian target laga perdana. Pelatih 44 tahun tersebut bersyukur merasa senang karena bisa melewati laga sulit lawan Korea Selatan.
“Yang pasti kita bersyukur ya. Dan pemain bisa bekerja keras hari ini, dan dapat tiga poin. Saya harap itu bisa menjadi modal yang baik pada kita, ” ujar Nova Arianto usai laga
Nova memberikan apresiasi kepada pasukan Garuda Muda yang telah bertarung dengan gigih melawan tim yang sangat tangguh.
Menurutnya tiga poin atas Korea Selatan jadi modal positif bagi Timnas U-17 Indonesia. Namun, perjuangan masih belum selesai, sebab masih ada dua pertandingan yang harus dituntaskan.
“Kita masih belum selesai.Karena kita masih ada dua pertandingan lagi,” pungkas Nova seraya menginginkan pada 7 April 2025, Timnas U-17 Indonesia akan menghadapi Yaman.
Dengan kemenangan 1-0 atas Korea Selatan, Timnas Indonesia meraih 3 poin dan menempati peringkat kedua klasemen Grup C.
Peringkat pertama ditempati Yaman, karena menang 2-0 atas Afghanistan U-17. Sementara peringkat ketiga diraih Korea Selatan, lalu terakhir Afghanistan. *