Hasil Sidang Sinode IV Sesi I Keuskupan Ruteng: Berziarah Bersama dalam Pengharapan; Beriman, Bersaudara, dan Misioner
56. Kami juga mengakui dengan jujur bahwa persaudaraan tidak berarti hidup tanpa konflik. Perbedaan pandangan, kepentingan, dalam kehidupan Gereja tidak jarang menyebabkan konflik yang menimbulkan goresan dan luka yang mendalam. Kami mohon pengampunan dan bersama sama ingin membangun terus menerus hidup baru yang diobati oleh balsam Kerahiman Ilahi. Ke depannya kami belajar mengelola konflik dalam semangat Injil—dalam pengampunan, dialog, dan komitmen untuk bertumbuh dan berubah dalam tuntunan Roh Kudus.
57. Kemudian, dalam Sinode IV kami ingin menjadi Gereja yang misioner—Gereja yang bersaksi
tentang kasih Allah. Kami tidak ingin menjadi Gereja yang hidup dalam “zona nyaman” dan berpuas diri dengan apa yang ada, tetapi ingin terus menerus dibarui dan dituntun oleh Roh Kudus keluar dari kemapanan dan menjadi saksi-saksi Injili.
58. Kesaksian ini pertama-tama terjadi ad intra, ke dalam kehidupan umat sendiri: di paroki, stasi,
Komunitas Basis Gerejawi, dan terutama dalam keluarga. Di sanalah Injil harus pertama-tama
dihidupi dan dirasakan. Misi Gereja tidak berhenti di dalam. Kami juga ingin bersaksi ad extra, keluar ke tengah masyarakat dan dunia: hadir di ruang publik, memperjuangkan keadilan, merawat martabat manusia, dan menjadi suara bagi mereka yang kecil dan terpinggirkan.