Hasil Sidang Sinode IV Sesi I Keuskupan Ruteng: Berziarah Bersama dalam Pengharapan; Beriman, Bersaudara, dan Misioner
53. Dari persekutuan dengan Allah (communio), kami dipanggil untuk memperkuat persaudaraan sebagai satu Umat Allah. Iman yang sejati selalu melahirkan relasi hidup antarumat yang sehat dan membangun, bukan merusak dan memecah-belah. Melalui motto bersaudara, kami ingin semakin terlibat dalam Persekutuan kasih Allah Tritunggal (LG 4) dan semakin menjadi saudara bagi yang lain.
54. Dalam konteks Keuskupan Ruteng, panggilan untuk hidup bersaudara ini sangat didukung dan
diperkaya kearifan budaya Manggarai, yang merumuskan hidup bersama dalam ungkapan: nai ca
anggit, tuka ca leleng—satu hati, satu jiwa. Demikian pula ritus dan upacara adat selalu
mengungkapkan persatuan yang mesra keluarga besar dan keluarga dalam kampung satu sama lain.
55. Kami ingin mewujudkan persaudaraan dalam keragaman yang menjadi motto Bapa Suci Paus Leo XIV, In illo Uno Unum (Dalam yang Esa, kita adalah satu). Meskipun kita banyak, dalam Kristus
yang satu, kita adalah satu (bdk. 1 Kor 12; Mzm 127). Bersaudara bukan berarti menghilangkan
keunikan dan perbedaan, tetapi menghargai dan memadunya dalam harmoni yang indah. Perdamaian sejati dalam kehidupan Gereja dan masyarakat terwujud dalam kebenaran, keadilan, dan tenggang-rasa.