Hasil Sidang Sinode IV Sesi I Keuskupan Ruteng: Berziarah Bersama dalam Pengharapan; Beriman, Bersaudara, dan Misioner
51. Dalam kondisi krisis yang dialami banyak orang dewasa ini, ketika orang terikat dengan daya dan jangkauan ilmu pengetahuan dan teknologi serta materi, yang ternyata terbatas, bahkan hampa, suram dan gelap, kami ingin berakar, bertumbuh dan berbuah dalam iman akan Yesus Kristus. Dialah terang dan kebenaran sejati. Kami berkomitmen agar iman Kristiani kami sungguh ibarat cahaya (lumen) yang menerangi aspek kehidupan sehari-hari setiap insan di tanah Nucalale ini (bdk. Ensiklik Lumen Fidei, LF, 4). Beriman berarti menemukan kekuatan dengan meletakkan seluruh diri di tangan Allah yang adalah setia (LF,10).
52. Iman yang sejati menuntun pada kasih karena iman tanpa perbuatan adalah mati (bdk. Yak 2:17). Iman lahir dari kasih Kristus yang memberikan diri-Nya (bdk. 1 Yoh 4:7-12). Demikian pula iman terwujud dalam kasih kepada sesama. Sebab barang siapa mengatakan mengasihi Allah tetapi membenci sesamanya, dia adalah seorang pendusta (1 Yoh 4:20). Kami meyakini ajaran Paus Fransiskus, beriman berarti mempercayakan diri pada kasih yang selalu menerima dan mengampuni, yang menopang dan mengarahkan hidup serta yang menunjukkan dayanya untuk meluruskan sejarah yang berliku (LF 13). Iman ini ingin kami hidupi dalam belas kasih Allah agar semuanya dilakukan dalam kasih, “Omnia in Caitate” (1Kor. 16:14).