Hasil Sidang Sinode IV Sesi I Keuskupan Ruteng: Berziarah Bersama dalam Pengharapan; Beriman, Bersaudara, dan Misioner
42. Kami juga menyadari dan mengidentifikasi secara jujur adanya hambatan serius terhadap
pertumbuhan Gereja sinodal, terutama dalam bentuk pola kerja nyaman, rutinitas tanpa evaluasi, gaya pastoral yang pastorsentris, mentalitas klerikalisme, manajemen tertutup, lemahnya regenerasi kepemimpinan, serta partisipasi umat yang rendah akibat sikap apatis dan individualisme. Hambatanhambatan ini hendak kami atasi karena bertentangan dengan hakikat Gereja sebagai Umat Allah yang berjalan bersama dalam bimbingan Roh Kudus.
43. Oleh karena itu, dalam Sidang Sinode IV Sesi I kami ingin membangun pertobatan personal dan struktural (metanoia pastoral) yang menyentuh cara berpikir, cara memimpin, dan cara melayani. Secara khusus Pastor Paroki dipanggil untuk menjalankan kepemimpinan sinodal sebagai pelayan persekutuan dan fasilitator proses pembedaan bersama, sementara umat awam diteguhkan sebagai subjek aktif perutusan Gereja berdasarkan martabat baptisan.
44. Kami juga ingin secara tegas menguatkan peran dan kapasitas awam, melalui pendelegasian tugas yang nyata, pembinaan iman dan kompetensi yang berkelanjutan, kaderisasi kepemimpinan, serta pelibatan aktif dalam lima bidang perutusan Gereja, baik di dalam Gereja maupun di ruang sosial. Penguatan awam dipandang sebagai syarat mendasar bagi pertumbuhan Gereja yang sinodal dan misioner.