Hasil Sidang Sinode IV Sesi I Keuskupan Ruteng: Berziarah Bersama dalam Pengharapan; Beriman, Bersaudara, dan Misioner
40. Praktik-praktik ini menunjukkan bahwa Gereja lokal Keuskupan Ruteng memiliki fondasi nyata
untuk terus bertumbuh sebagai Gereja yang sinodal. Praktik-praktik baik ingin kami rawat dan
kembangkan secara sadar dan berkelanjutan, melalui budaya mendengarkan, keterbukaan terhadap kritik, pembedaan rohani bersama, evaluasi rutin, serta penguatan komunikasi dan kolaborasi antara pastor, DPP, DKP, stasi, KBG, dan kelompok kategorial. Kami berkomitmen agar Sinodalitas menjadi pola tetap kehidupan Gereja, bukan sebagai kegiatan insidental atau tergantung pada figur tertentu.
41. Komitmen ini berakar pada budaya Manggarai dalam konsep salang lako raés (jalan di mana kita menjejakkan kaki bersama dalam persaudaraan). Disadari bahwa hidup itu sebuah ziarah (salang mosé), yang perlu dibekali secara fisik dan spiritual dengan baik (wuat wa’i). Semua rangkaian ziarah perjalanan ini berlangsung dalam rahim persekutuan (tuka wing mosé cama). Tidak ada jalan hidup tanpa jejak-jejak kaki bersama (toé manga salang mosé émé toé helé lako cama). Karena itu, kami selalu berdoa agar jalan hidup bersama selalu terbuka (néka ro’é salang mosé, néka tungga salang duat, néka képé salang wé’é).